Mengungkap Enam Dampak KDRT Yang Dialami Wanita

image: suarapemred.com
Menjalin hubungan yang harmonis memang sangat diinginkan oleh setiap orang dalam berumah tangga. Namun terlepas dari itu semua, tidak sedikit pula hubungan rumah tangga mereka mengalami peristiwa yang memprihatinkan. Sebut saja KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sering terjadi diantara hubungan mereka. KDRT merupakan sebuah kejahatan dalam rumah tangga yang terkadang dianggap benar oleh pelaku KDRT untuk mengatasi masalah yang ada pada keluarga mereka. Perlu anda ingat bahwa KDRT bukanlah sebuah solusi, akan tetapi itu adalah sebuah bencana besar yang akan membuat rumah tangga anda tidak harmonis seperti apa yang anda inginkan.


KDRT tidak hanya menambah masalah dalam hubungan rumah tangga akan tetapi hal itu juga dapat melanggar hak asasi manusia ( HAM ), karena disitu ada pihak yang dirugikan terutama wanita atau istri dalam sebuah rumah tangga yang kebanyakan menjadi sasaran. Walaupun tindakan tersebut sudah dilarang dan melanggar undang undang negara, tetap saja pelaku KDRT belum juga jera untuk melakukannya. Padahal hal terrsebut mempunyai dampak negatif dalam mempertahankan hubungan rumah tangga mereka terutama bagi seorang wanita atau istri sebagai korbannya.


Dari paparan di atas dapat disimpulkan enam dampak KDRT yang dialami oleh pihak wanita/istri dalam sebuah rumah tangga. Berikut ulasannya :


1. Menjadi korban kekerasan fisik
Menurut hasil riset yang ada di University of Montreal, Quebec, Canada, oleh beberapa peneliti dinyatakan bahwa sepertiga lebih dari 1.053 wanita dilaporkan menderita kekerasan dari pasangan mereka mulai dari didorong dan dipukul dengan benda. Hal demikian merupakan bukti yang cukup kuat bagi para korban KDRT khususnya wanita untuk menuntut tindakan kejahatan tersebut. Karena hal itu dapat mengganggu kesehatan fisik bagi para wanita yang dijadikan korban kekerasan dalam rumah tangga.


2. Mengalami depresi mental
Seorang wanita dua kali lebih mungkin untuk menderita depresi pada dirinya. Karena selain menjadi korban fisik wanita juga mengalami suasana hati yang resah dan merasa dilecehkan oleh pasangan mereka. Sehingga menimbulkan luka hati yang paling dalam dan selalu mengingat kejadian-kejadian yang menyakitkan bagi diri mereka, seolah-olah wanita tersebut selalu terbayang-bayang akan kejadian itu terulang kembali. Dari situ akhirnya membuat dirinya merasa takut dan mengalami depresi mental.


3. Bingung masalah perekonomian
Setelah kejadian KDRT, maka seorang suami sebagai pelaku KDRT itu sendiri kebanyakan sudah cenderung enggan memberi nafkah lahir kepada istrinya atau pihak wanita. Dikarenakan rasa benci  suami terhadap sang istri masih tertanam. Hal seperti itu mengakibatkan sang istri sebagai ibu rumah tangga mengalami kebingungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, dan lain sebagainya.


4. Pelampiasan yang tidak dapat terkendali
Kekecewaan yang dialami oleh wanita sebagai korban KDRT sudah begitu mendalam, karena prilaku pasangannya yang tidak kunjung mereda dan terus meluncurkan tindakan kekerasan. Sehingga wanita tersebut mencari jalan keluar yang dianggapnya benar, semisal dengan meminum minuman beralkhohol, obat-obatan terlarang sebagai bahan pelampiasan. Hal itu menunjukan bahwa gaya hidup wanita tersebut sudah tidak normal dan kurang adanya keseimbangan dalam berpola pikir dikarenakan semakin banyaknya tekanan dalam diri wanita itu, sehingga ia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.


5. Perceraian
Kekerasan dalam rumah tangga juga dapat menimbulkan sebuah perceraian. Hal itu disebabkan karena pihak wanita yang menjadi korban sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan rumah tangga yang mereka bangun selama mereka menikah. Karena sikap pasangan yang keterlaluan dan melampaui batas sampai-sampai pihak wanita meminta gugatan cerai kepada sang pasangan/suami. Perkara tersebut sangat disayangkan, karena sebagai seorang suami kurang bisa menjaga sikap kepada sang istri sampai-sampai tidak tahan lagi alias muak dengan perilaku suaminya.


6. Enggan untuk menikah lagi
Kebanyakan wanita yang sudah berpisah atau bercerai dengan pasangan mereka, cenderung merasa enggan untuk menjalin hubungan dan membuat rumah tangga baru lagi, setelah menjadi sasaran atau korban KDRT dari suami sebelumnya alias MOVE ON tingkat atas. Hal tersebut dikarenakan bahwa mereka masih trauma dengan peristiwa pahit yang dialami sebelumnya, sehingga mereka memilih untuk hidup sendiri alias menjadi seorang janda.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar