Subhanallah, Tangan Orang Ini Tak Pernah Tersentuh Api Neraka Selamanya

Mengulik kisah yang patut dijadikan suri tauladan, mengenai sosok tukang batu pada masa Rasulullah yang dapat menjadi hikmah dan petuah bagi kita semua. Tak lain ialah sikap mulia seorang tukang batu, yang mana disaksikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam kisah ini mengisahkan tentang keistimewaan dalam hidup manusia, dan patut untuk dijadikan renungan agar setiap insan mampu mencontoh akan prilaku mulia yang terkisahkan di dalamnya. 

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan dalam riwayat hadits Nabi, yakni peristiwa mengharukan ini terjadi saat Rasulullah SAW pulang dari peperangan Tabuk. Merupakan peperangan antara kaum Muslimin dengan bangsa Romawi, bahkan perang ini telah menjadi ancaman besar bagi kaum muslimin di masa itu.


Kejadian ini berlangsung saat Nabi hendak kembali ke Madinah selepas dari peperangan tersebut. Akan tetapi ketika hampir mendekati kota Madinah, lebih jelasnya di salah satu sudut jalan kota, telah terjadi pertemuan antara baginda Rasul dengan Si tukang batu yang membuahkan kabar mengagumkan bagi kita semua.


Di saat beliau melihat seorang tukang batu tersebut dalam kondisi tangannya tampak melepuh, hingga kulitnya pun menjadi berwarna merah kehitam-hitaman, layaknya terpanggang sinar matahari. Maka terjadilah sebuah percakapan antara Si Tukang batu tersebut dengan Baginda Rasul SAW. 

Pada saat itu pula, Rasulullah sebagai manusia agung yang menjadi tauladan bagi umat sejagat bertanya kepada Si tukang batu tersebut, “ Kenapa tanganmu kasar sekali..?, Lantas seorang tukang batu tersebut menjawab “ Ya Rasulullah, Saya memiliki pekerjaan membelah batu setiap hari, Sehingga saya menjual belahan batu tersebut. Dan dari hasil penjualan itu saya tujukan untuk memberi nafkah keluarga saya. Oleh karena hal itulah tangan saya menjadi kasar.”

Sebagai suri tauladan bagi  umat manusia di bumi, Rasulullah memang menjadi manusia yang dimuliakan dan dijaga akan setiap akhlaknya. Maka begitu beliau mendengarkan jawaban dari Si tukang batu tersebut, Lalu Rasulullah menggenggam tangan kasar Si tukang batu, serta menciumnya. Seraya beliau pun bersabda : “ Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh oleh api neraka selama-lamanya.”

Subhanallah, padahal di kala itu Rasulullah tidak pernah mencium tangan para pemimpin dari kaum manapun, bahkan dari raja yang ada sekalipun. Dan berdasarkan catatan sejarah telah menyatakan, bahwa hanya pada putrinya yakni Fatimah Az-Zahra dan Si Tukang batu itulah yang pernah dicium oleh bagi Rasulullah SAW. 

Bahwasannya sikap dan perilaku Si tukang batu ini memang sangat mulia, karena demi mencarikan nafkah yang halal untuk keluarganya, ia rela bekerja keras. Dan hal demikian memang sesuai dengan adanya hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Anas yakni :

” Barang siapa pada malam hari telah bersusah-payah untuk mencari rizki yang halal, Maka pada malam itu pula ia diampuni ”.

Hadits tersebut juga diperkuat dengan adanya sabda Nabi, yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah percakapan beliau dengan para sahabat, Rasulullah bersabda :

“ Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat ”, maka para sahabat bertanya kepada baginda Rasulullah, “ Apakah yang dapat menghapusnya Ya Rasulullah, Seraya Rasulullah menjawab “ Bersusah-payah dalam mencari nafkah ”.

Maka dari itu, alangkah mulia bagi setiap insan yang beriman bekerja keras demi mencukupi kehidupan keluarganya, baik untuk orang tua nya, istri, maupun anak-anaknya. Allah SWT akan senantiasa memberikan ganjaran yang sama halnya seseorang yang jihad dijalan Allah SWT. Dan demikian pula sebaliknya, bahwa seseorang yang malas bekerja dan pasif, maka ia sama halnya kehilangan harga dirinya. Dan yang lebih parah lagi akan menjadikan hidupnya mengalami kemunduran. 

Semoga dari kisah di atas, kita semua mampu memetik hikmah dan bisa merenungi akan betapa pentingnya sebuah kerja keras ini, untuk meraih kehidupan yang sejahtera. Bahkan dengan bekerja keras serta diiringi dengan doa, maka itulah yang akan menuntun kita semua dalam menggapai impian, serta menjadi manusia yang dimuliakan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Artikel Terkait