Begini Respon Otak Jika Lihat Orang Garuk-garuk dan Menguap

(Gambar: sites.psu.edu)
Menggaruk tentunya jadi respon alami secara umum  saat tubuh merasa gatal. Terdapatnya serangga menempel di kulit, alergi  maupun banyak kuman dan bakteri biasanya memicu tubuh melakukan kebiasaan semacam ini. Begitu pula menguap, berdasarkan faktanya menunjukkan bahwa menguap berpotensi menular. Sehingga ketika kita di samping orang yang sedang menguap, secara tak sadar juga akan ikutan menguap bukan…?

Lalu apakah prilaku menggaruk dan menguap ini memiliki keterkaitan khusus terhadap respon otak di tubuh kita…?, Ataukah itu semua hanya sekadar rasa empati, terutama saat melihat orang sedang menggaruk-garuk maupun menguap. Sehingga seketika itu, kita cenderung ikut untuk menggaruk-garuk bahkan menguap.

Mengulik kembali mengenai penjelasan seorang profesor Psikologi & Neuroscience di University of Maryland, Baltimore County, bernama Robert Provine, menjelaskan bahwa demikian itu memang bukanlah suatu hal aneh ketika menguap dapat menular. Menguap merupakan bentuk alami berasal dari empati seperti halnya tertawa. Sehingga menjadi sebuah fenomena sosial dan fisiologis secara umum. 

Ternyata menguap juga tidak hanya terpaut pada perkara itu saja. Menurut bukti ilmiah baru-baru ini, menyatakan bahwa menguap atau menggaruk bisa saja secara prilaku sosial menular. Karena memang berkaitan erat dengan respon otak. Di mana otak telah didesain khusus untuk menanggapi prilaku tersebut. 

Para ilmuwan mencoba mengidentifikasi mengenai respon otak tikus, yaitu saat mereka  merasa gatal / menggaruk-garuk tubuhnya setelah melihat sekawannya sedang menggaruk. Dalam penelitian itu telah ditemukan adanya struktur otak disebut Suprachiasmatic Nucleus ( SCN ), yang sangat aktif setelah tikus itu melihat sekawannya sedang menggaruk. Sebenarnya SCN dalam otak ini merupakan komponen penting guna mengatur saat hewan itu tidur dan bangun. Tapi bagian ini telah diyakini cukup berpengaruh mengirimkan signal gatal terhadap tikus yang menonton sekawannya menggaruk-garuk. 
Gambar: md-health
Bahkan,  ketika tikus itu mencoba mendekati sekawannya yang sedang menggaruk, maka akan lebih cepat pula SCN melepaskan zat kimia berupa GRP ( Gastrin Releasing Peptide ), yaitu sebuah pusat pemancar signal gatal yang terdapat di antara kulit & sumsum tulang belakang pada tikus. Dengan begitu cepat pula signal itu mengenai kawanan tikus lain serta menjadikannya ikut merasa gatal, kemudian menggaruk-garuk tubuhnya.

Berdasarkan keterangan Dr. Zhou-Feng Chen, seorang direktur di Washington University Centre dalam Studi Itch, menjelaskan bahwa tikus termasuk hewan yang memiliki visi lemah. Mereka menggunakan aroma serta sentuhan ketika mengitari setiap area yang dituju. Jadi belum diketahui secara pasti, apakah tikus itu mampu melihat sekawannya yang sedang menggaruk sehingga mereka bisa tertular.

Tetapi Dr. Zhou-Feng Chen menjelaskan, baik menggaruk maupun menguap yang menyebabkan menular memang menjadi prilaku bawaan dan insting. Karena hal itu sudah terlebih dahulu ditanamkan dalam otak. 

Jadi kalau Anda sedang menggaruk / menguap, apakah Anda sadar bahwa secara tak langsung telah mengirimkan signal khusus untuk membuat seseorang yang melihat jadi ikutan tertular..?. Sehingga menguap maupun menggaruk tak hanya berpengaruh terhadap prilaku sosial, tapi otak secara tak langsung mampu merespon, kemudian menularkan prilaku tersebut kepada orang di samping Anda. 

Gambar: Dailymail
Oleh karena itu saat menguap maupun ingin menggaruk karena tubuh terasa gatal, maka setidaknya Anda mengetahui cara tepat untuk menyikapinya. Sehingga tidak sampai menjadikan kawan di samping Anda tertular.
Ditulis Oleh : Arbamedia.com  /  Ar. M
Referensi : huffingtonpost.com, dailymail.co.uk, scotsman.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel