Gagal Diet Meski Sudah Berolahraga, Ternyata Ini Penyebabnya

(Gambar: Stuff)
Olahraga sering kali ditempuh bagi siapa pun yang berkeinginan untuk diet. Guna mengurangi tumpukan lemak berlebih, tentunya tak sekadar mengandalkan banyak konsumsi air putih, atau meresep sendiri ramuan khusus. Mendorong tubuh untuk lebih banyak gerakan, termasuk kunci primer yang berfungsi menurunkan berat badan. Karena langkah tersebut memang diklaim efektif mengurangi kelebihan lemak dalam tubuh. 

Tapi apakah setiap latihan diet yang kita terapkan, pasti membawa keberhasilan untuk melunturkan lemak berlebihan itu.? Belum tentu, karena tak sedikit orang rutin melakukan olahraga diet, namun tetap saja tumpukan lemak masih terlihat menggelambir, seakan – akan latihan rutin seperti tiada guna.

Jangan putus asa dan segera ketahui penyebabnya. Kalau dirasa metode latihan sudah dilakukan secara tepat, kemungkinan besar kegagalan diet bisa dikarenakan oleh persoalan lain yang tanpa disadari. 

Berdasarkan hasil studi dalam American Journal of Physiology - Endocrinology and Metabolism menunjukkan, meski tubuh melakukan latihan, masih terdapat kemungkinan untuk tidak dapat merespon gen dalam jaringan Adiposa, yaitu sebuah jaringan yang berfungsi menjaga suhu tubuh, dan tersusun atas lemak di seluruh tubuh.

Lantas apa penyebab gagal diet yang dimaksud..?

Penyebab gagal diet ini ternyata bisa dipengaruhi oleh terlalu dekatnya waktu makan dan olahraga. Sehingga dari situ menjadikan berat badan cenderung sulit untuk diturunkan. Menurut seorang penulis pada studi di atas, bernama Dylan Thompson berasal dari University of Bath, Inggris, memaparkan ketika latihan dilakukan setelah makan, demikian itu tidak dapat menstimulasi terhadap jaringan Adiposa. Karena olahraga setelah makan, bukannya membantu tubuh membakar lemak, justru membuat jaringan Adiposa cenderung sibuk menanggapi makanan.

Para peneliti telah mengamati sekelompok laki – laki yang memiliki obesitas, dengan berjalan 60 menit saat perut kosong. Kemudian, mereka juga mempelajari pria obesitas berjalan dalam kondisi usai mengonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi. Setelah dikumpulkan sampel darah serta jaringan lemak di tubuh peserta, ternyata ekspresi gen pada jaringan Adiposa mengalami perbedaan secara signifikan, yaitu :

a. Gen PDK4 ( Pyruvate Dehydrogenase Kinase-4 ) & HSL meningkat saat mereka berjalan dalam perut kosong
b. Sebaliknya, gen PDK4 & HSL menurun ketika mereka berjalan setelah makan

Lalu, apakah itu semua berlaku pada pria dan wanita..?

Tidak, bisa jadi studi itu diperuntukkan kepada kalangan pria saja. Karena menurut hasil penelitian berasal dari University of Surrey, menjelaskan mengenai bagaimana cara pria dan wanita menentukan waktu makan ketika berolahraga, guna membakar lebih banyak lemak, tanpa menggunakan olahraga ekstra. Peneliti menemukan, pria mampu membakar lebih banyak lemak jika latihan dilakukan sebelum makan. Namun, efeknya justru sebaliknya bagi wanita, mereka malah dianjurkan untuk makan sebelum berolahraga. 

Penelitian tersebut juga menunjukkan, pria mampu membakar lemak hingga 8 % lebih banyak saat mereka olahraga sebelum makan. Sedangkan perempuan bisa melunturkan lemak hingga 22 % ketika makan sebelum latihan. 

Mengapa bisa begitu.?  Dr. Adam Collins dari University of Surrey, memberi penjelasan bahwa tubuh pria memang lebih berotot. Sementara karbohidrat dalam ototnya sangat berperan dalam tubuh mereka, sebagai bahan bakar mengurangi jumlah lemak. Sedangkan tubuh perempuan diprogram untuk membakar lemak, tapi di sisi lain juga menghemat jumlah karbohidrat dalam tubuh. 

Kesimpulannya, kalau wanita ingin diet dengan latihan tertentu, dianjurkan makan terlebih dahulu. Sebaliknya jika laki – laki berkeinginan program dietnya lancar, maka saat melakukan latihan, usahakan kondisi perut masih keadaan kosong alias belum sarapan. 

Tapi penyebab gagal diet bukan hanya terletak di situ saja, masih terdapat perkara umum yang harus diperhatikan, layaknya tingkat stres maupun keadaan tubuh kelelahan karena terlalu lamanya berolahraga. 
Ditulis Oleh : Arbamedia.com  / Ar.M
Referensi : netdoctor.co.uk, metro.co.uk, dailymail.co.uk

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel