7 Kesalahan Sarapan Ini Sebabkan Berat Badan Naik

Gambar: mirror
Sarapan pagi juga dikenal berguna membantu penurunan berat badan. Alasannya, karena penerapan sarapan mampu membuat tubuh menyerap kalori lebih efisien. Dibandingkan jika badan belum menerima asupan apapun, maka proses pembakaran kalori akan cenderung lebih lambat. Bahkan, jika Anda sebagai penggemar olahraga pagi, mengonsumsi makanan terlebih dahulu akan membuat peningkatan sistem metabolisme dapat diimbangi, sehingga aktivitas latihan tidak sampai membuat mudah lapar, serta tubuh tidak akan terlalu menyerap banyak kalori di kemudian hari. Oleh karena itulah para ahli mengungkap bahwa begitu pentingnya kalau kita memperhatikan sarapan pagi.

Sayangnya, masih banyak sekali kesalahan yang tak diduga terutama saat kita melakukan sarapan pagi. Penerapan sarapan pagi sebelum Gym misalnya, akan menstimulasi proses penurunan berat badan lebih cepat. Tapi terkadang hal itu bukan malah membuat kondisi badan langsing, kesalahan saat sarapan justru menyebabkan tubuh cepat gemuk. Bagaimana bisa begitu ? Sebab,  mungkin masih kurangnya memperhatikan hal – hal penting saat makan, entah meliputi kandungan apa saja yang kita konsumsi, pola makan yang baik dan sebagainnya.

Maka dari itu, perhatikan poin – poin berikut mengenai kesalahan sarapan yang menyebabkan berat badan melonjak :  

1. Sarapan Tidak Mengandung Cukup Serat
Menikmati makanan kaya serat sangat dibutuhkan untuk menemani hari pagi-mu. Kenapa kita harus melewatkan konsumsi serat, padahal itu penting sebagai penambah suplai nutrisi dalam rangka menjaga berat badan tubuhmu. Menurut penjelasan ahli gizi dalam C & J Nutrition yakni Stephanie Clarke, RD, dan Willow Jarosh, RD, mengungkapkan bahwa setidaknya kita membutuhkan 6 gram asupan serat pada pagi hari guna mendorong tubuh untuk memiliki berat badan ideal. Untuk makanan berserat yang direkomendasikan meliputi sayuran hijau, buah pir, apel, kacang – kacangan serta biji – bijian. Sarapan pagi sarat dengan kandungan serat, tentu akan membuat tubuh jadi lebih lama untuk merasa lapar. Apalagi saat melakukan olahraga, tentu serat tinggi cukup menunjang dalam menyuplai sistem pertahanan tubuh.

2. Sering Mencium Bau Makanan
Meningkatnya berat badan juga tidak sepenuhnya diatur oleh berapa banyak makanan berkalori / berlemak masuk ke tubuh kita. Sebuah penelitian berasal dari Universitas California, Berkeley AS, menjelaskan bahwa terdapatnya pengaruh antara mencium bau makanan dengan kenaikan berat badan, setelah mereka mengujinya terhadap tikus kurus yang memiliki penciuman tajam lalu diberikan makanan. Hasilnya berat badan tikus itu mengalami kenaikan sebanyak dua kali lipat. Sedangkan tikus gemuk yang kehilangan indera penciuman diberikan makanan sama halnya tikus kurus. Tapi berat badan tikus gemuk justru menurun. Berdasarkan studi diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism tersebut juga menjelaskan, memang ada keterkaitan sama antara sistem metabolisme, indera penciuman, serta sensor otak tikus pada manusia. 

3. Tidak Memperhatikan Porsi Makan
Mengalami gangguan makan seringkali menyebabkan seseorang kesulitan mengatur porsi makanan mereka.  Kalau kita sampai makan terlalu banyak, itu semua tidak hanya berpengaruh terhadap kenikmatan rasa saat sarapan. Tapi melahap seluruh makanan tanpa berpikir akibatnya, secara tidak sadar kesalahan itu akan membuat program diet jadi berantakan. Mengatur porsi tepat saat mengonsumsi makanan di pagi hari adalah ide bagus untuk diterapkan.

4. Melupakan Lemak Sehat saat Sarapan
Lemak tak jenuh tunggal seperti : minyak zaitun, alpukat, kacang – kacangan serta biji – bijian cukup direkomendasikan sebagai menu diet ketika sarapan. Karena sensasi kenyang yang diperoleh akan membuat tubuh selalu berstamina terutama saat melakukan latihan. Sebaliknya, kalau kita menggantikannya dengan mengonsumsi lemak tidak sehat, justru kesalahan itu akan membuat kenaikan berat badan yang mungkin tanpa disadari. Usahakan setiap sarapan, kita mendapat sebanyak 10 – 15 gram lemak tak jenuh tunggal, demikian memang sesuai rekomendasi asupan lemak sehat yang dijelaskan dalam C & J Nutrition.

5. Konsumsi Karbohidrat Terlalu Berlebihan
Sebanyak 45 sampai 55 persen asupan kalori saat sarapan usahakan berasal dari karbohidrat. Dalam makanan berkarbohidrat sebaiknya bukan termasuk jenis makanan bergula, kemudian mencoba mengurangi  bentuk makanan olahan untuk jadi menu sajian. Semangkuk Oat Meal dipadukan dengan sayuran seperti kembang kol termasuk contoh makanan rendah kalori tapi berprotein tinggi.

6. Makan Kelebihan Kalori
Kebutuhan kalori saat sarapan jika bertujuan menurunkan berat badan bisa berbeda kalau kita hanya melakukan sarapan guna mempertahankan berat badan saja. Seperti keterangan ahli gizi dari C & J Nutrition, memberikan saran jika itu diperuntukkan penurunan berat badan, maka takarannya dalam sekali sarapan tidak lebih dari 300 – 350 kalori. Tapi bilamana demikian ditujukan untuk mempertahankan berat badan tubuh, maka cobalah gunakan takaran 350 sampai 400 kalori, tidak lebih. Lantas bagaimana kalau lebih dari 400 kalori sekali sarapan ? Bisa saja akan jadi penyebab berat badan bertambah.

7. Sarapan Tidak Cukup Protein
Kalau hanya mengonsumsi roti setiap pagi, mungkin itu menyebabkan kebutuhan tubuh akan protein tidak terpenuhi. Sehingga kerap kali kekurangan protein membuahkan sensasi kurang memuaskan di sepanjang hari, rasa berkeinginan untuk makan bertambah, akhirnya latihan diet di pagi hari pun tak bisa menunjukkan hasil maksimal. Bahkan menurut hasil penelitian juga mengungkapkan, mendapat asupan protein setidaknya 20 gram saat sarapan berguna menurunkan berat badan tubuh.

Jadi, jangan lewatkan sarapan karena kebiasaan baik ini cukup penting untuk kestabilan sistem metabolisme tubuh, terlebih membantu program diet Anda. Jadi, makanlah di pagi hari menggunakan metode yang tepat , tidak terburu – buru saat makan, kemudian sediakan menu makanan bervariasi sehingga manfaatnya bisa lebih cepat dirasakan.
Ditulis Oleh : Rah. W

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel